• Uncategorized
  • Why Indonesia Mengajar?

    Hari ini adalah 41 satu hari setelah pengumuman Direct Assesment Indonesia Mengajar. Saya ingat seluruh sendi tubuh lemas sangking senangnya membaca email kelulusan. Bagaimana tidak senang ketika mimpimu enam tahun terakhir terasa semakin nyata?

    Saya mulai bercerita kepada keluarga dan teman-teman terdekat. Mereka sangat suportif – tidak sabaran malah, membayangkan anak-anak di pedalaman akan diajari oleh pakar tipu seperti saya. Lalu saya bercerita kepada orang-orang di luar circles saya, dan saya terkejut karena ternyata tak semua orang – bahkan banyak orang, yang tidak setuju dengan keputusan saya mengikuti IM.

    Tiga argumen yang paling sering saya terima adalah:

    1. Kamu yakin mau ninggalin pekerjaan kamu sekarang?

    Saya kaget loh karena ternyata banyak orang menilai saya irrational. Kata mereka belum tentu saya bisa mendapat pekerjaan senyaman ini (read : high prestige and well paid) sepulang IM. Kata mereka saya harus siap-siap bersaing dengan ribuan professionals lainnya karena saya tidak akan dihitung sebagai fresh grad lagi tahun depan. Kata mereka, IM equals to a year off.

    Sekali lagi, saya terkejut – tapi setuju dengan mereka. IM kan memang bukan karir, dan memang akan tercatat sebagai a missing year di tangga karir alumninya. Apalagi sebagai lulusan universitas Jepang, salah satu  USP saya adalah kemampuan bahasa dan etos kerja. Saya paham bahwa IM benar-benar off the track. Saya juga tahu bahwa beberapa multinational companies memandang IM sebelah mata, ya sama saja dengan volunteering activities lainnya.

    2. Kamu kemakan strategi politik Anies, Jih.

    Saya jadi ingat sebuah pertanyaan saat Direct Assessment. Psikolognya nanya seperti ini, bagaimana pandangan kamu terhadap majunya Pak Anies di Pemilu Jakarta? Bagaimana jika political moves dia bertentangan dengan nilai-nilai kamu? Saya lihat kamu orangnya value-oriented nih, apa kamu masih yakin untuk daftar IM?

    Saya tertawa saat mendengar pertanyaannya.

    Buset dah, ngasih pertanyaan susah bener ye. Bukannya nanya tentang CV, batin saya.

    Lalu saya menjawab, saya sangat menghormati Pak Anies dan memang mengikuti kiprah politiknya. Menurut saya, Pak Anies sebagai penggagas telah menanam values di organisasi ini, namun IM telah secara mandiri mengembangkan values-nya sendiri. Saya jatuh cinta sama produknya Bu, bukan pendirinya. Jadi kemauan saya mengikuti IM tidak ada hubungannya dengan penilaian saya terhadap beliau. Kalaupun ternyata nanti saya menjadi pion-pion politiknya, ya sudah, toh ada kebaikan juga yang datang dari situ.

    Itu jawaban kerennya. Jawaban singkatnya sih, saya kesal tapi mau bagaimana lagi.

    3.  Kamu ninggalin orang tua kamu lagi dong? Kasian dong Mamah kalau kamu pergi-pergi terus.

    Ini argumen yang saya setujui tapi paling bikin emosi. Saya tidak paham dengan orang-orang yang menyindir seperti gini. Semua hal pasti ada konsekuensinya lah, dan kita tidak perlu men-judge satu sama lain karena sistem timbangan kita berbeda. Apa perlu menyelipkan rasa bersalah di setiap pilihan hidup orang-orang lain? Apa perlu sotoy sama pengorbanan orang yang sebenernya kamu tidak berkepentingan di dalamnya?

     

     
    Loh, kalau saya setuju terus..  kenapa masih ngotot berangkat IM?

     

    Semoga jawabannya saya temukan setelah pulang ya.