• Uncategorized
  • Mencari Suara Anak-Anak Perempuan

    “Siapa yang bisa memberi contoh simbiosis parasitisme?”
    Saya menyapu pandangan ke seluruh siswa kelas 4, mendapati semangat menggebu-gebu dari siswa laki-laki di sisi kiri kelas. Tapi bukan mereka yang saya harapkan untuk menjawab, mereka sudah terlalu sering mengacungkan tangan. Tanpa menghiraukan mereka, saya menatap satu persatu anak perempuan di sisi kanan kelas, yang seluruhnya menghindari kontak mata saya. Saya lihat bibir mereka bergetar, mereka tahu jawabannya tapi tak satu pun mengangkat tangan. Mereka saling pandang lalu menunduk semakin dalam.
    “Ayo, anak perempuan harus berani menjawab!”
    Namun mereka tak bergeming.

    Di lain hari, saya tengah mengawasi siswa kelas 6 berdiskusi tentang pahlawan nasional pilihan mereka. Saya perhatikan, diskusi di kelompok laki-laki sungguh berapi-api sementara diskusi di kelompok perempuan nyaris tanpa suara. Saya hampiri mereka, mencoba mencari tahu masalahnya apa. Dengan wajah bingung mereka merajuk,” takut salah ah, bu. Ibu beri contoh tugas saja, nanti tinggal kami ikuti”. Saya tertawa kecil, “Ayo, anak perempuan harus berani salah!” Lalu muka mereka semakin tertekuk.

    Saya jadi berfikir, kemana hilangnya suara anak perempuan di kelas besar?

    Sebagai wali kelas 1 (dan teman main anak-anak PAUD), saya tahu betul betapa lantang anak-anak perempuan yang lebih kecil. Seperti Misna yang kritis, selalu mempertanyakan perintah saya untuk diam. Atau Amanah yang ekspresif, vokal terhadap perlakuan temannya yang tidak adil. Atau Aqmalia yang penuh inisiatif, menyuruh temannya berhenti nakal saat Ibu Jihan mulai terlihat kesal. Setiap harinya ruang kelas saya penuh dengan suara cempreng mereka.

    Nah lho, lantas kemana perginya kepercayaan diri anak perempuan saat beranjak besar?

    Terus terang, saya tak masalah dengan anak perempuan yang pemalu atau penakut. Itu manusiawi kok. Yang jadi masalah adalah anak perempuan yang tidak berani berfikir dan berpendapat. Memilih untuk tidak berpendapat adalah hak individu, tetapi terbiasa untuk tidak berpendapat hanya akan melahirkan anak-anak yang malas. Mereka nantinya akan tumbuh menjadi ibu-ibu yang tidak mandiri dan malas juga.

    Hari demi hari berganti. Setelah setengah tahun tinggal di desa ini, saya mulai menyadari alasan kebisuan mereka : ekspektasi sosial agar anak perempuan merendahkan suaranya. Beranjak dewasa, mereka menyaksikan bahwa Abah tak pernah bertanya dan Mamak tak pernah menambahkan kata-kata Abah. Mereka mendengar bahwa (pada hakikatnya) anak laki-laki adalah nakal dan anak perempuan tidak (boleh) nakal. Mereka mulai menerima bahwa guru-guru melanjutkan pelajaran tanpa menunggu mereka bersuara, toh anak laki-laki sudah menjawab habis pertanyaannya.

    Saya juga anak perempuan lho, jadi saya ingat pernah merasakannya juga. Untungnya Mamak saya seorang orator lokal, jadi suara toa-nya menurun kepada saya. Dan setelah dewasa saya menyadari benar bahwa terlepas dari kodrat dan pilihan hidup kami, perempuan punya hak suara yang sama dengan laki-laki. S-a-m-a.

    Tulisan ini bukan untuk curhat nasional, hanya seruan bagi edukator yang mengamati fenomena serupa. Saya yakin bukan cuma saya yang “gatal” dengan pola pembentukan karakter anak-anak kita. Di dunia yang membatasi frekuensi suara anak perempuan, semoga kita mampu membekali mereka keberanian untuk mengencangkan volume pada waktu-waktu yang mereka rasa tepat. Seperti speaker masjid yang bisa nyaring pada jam-jam shalat.

  • Uncategorized
  • First Homework


    My students were born in a small village with no access to clean water, so they grew up knowing nothing about proper sanitary. Yesterday, they were given their first homework as 1st graders, that was to brush their teeth. Now see how the smiles match those sparkling eyes.

  • Uncategorized
  • Kelas Inspirasi : Sebenar-Benarnya Menginspirasi

    Pada 12 Oktober 2017, Kelas Inspirasi #2 diadakan di Kab. Hulu Sungai Selatan, melibatkan 8 Sekolah Dasar dan ratusan relawan. Sungguh menggetarkan melihat tenaga profesional dari berbagai bidang turun ke kelas untuk mengajar anak-anak. Polisi, tentara, bidan, model, pegawai instansi, penggerak desa, dan seterusnya dengan suka dan rela mengajak anak-anak untuk bermain. Tak hanya itu, seluruh relawan (mulai dari panitia lokal, warga sekolah, hingga dokumentator) juga dengan penuh semangat mempersiapkan hari Inspirasi. Padahal banyak dari relawan adalah mahasiswa tingkat akhir, yang sedang sibuk-sibuknya menulis skripsi dan mengejar dosen. Banyak juga yang sudah berkeluarga, dan bukan hal mudah untuk meluangkan waktu dan pikiran sementara tanggung jawab lain terus menunggu.

    Pada akhir hari, saya menyaksikan sendiri bagaimana proses pembelajaran itu berputar. Orang-orang dalam lingkaran ini sudah saling menginspirasi.

    Di bawah adalah foto-foto dan kutipan singkat tentang Kelas Inspirasi. Semoga Enjoy!

    Foto bersama siswa SD Banjarbaru

    “(Sebagai petugas PDAM) tugas saya setiap hari adalah mengalirkan air bersih ke rumah-rumah. Miris rasanya melihat anak-anak di Desa Baru tidak paham dengan profesi saya karena mereka tidak kenal air ledeng. Setiap harinya mereka minum air sungai kotor yang diberi tawas. Itu cara yang sudah tidak layak digunakan di jaman sekarang.”-Ibu Yuni, PDAM Banjarmasin

    Menggiring anak-anak (kok kayak sapi)

    “Walau saya bukan pilot, saya ingin anak-anak (berani) bermimpi jadi pilot karena saya.”-Bapak Rudy, Sekcam Banjarbaru

    Anak-Anak dan Pesawat Cita-Cita Mereka

    “Kita harus membuat KI dengan sungguh-sungguh. Kita kan tidak pernah tahu doa anak mana yang mengantar kita masuk surga”. -Ibu Tati, Pengawas SD

  • Uncategorized
  • Jagoan

    Memasuki bulan keenam di Desa. Kata orang saya sekarang berbeda. Semakin nyata dan tembus pandang di saat yang sama. Wajar saja. Saya sekarang mulai melebur, menjadi satu dengan remah gumbili goreng dan butir jagung putih yang kerap jatuh di lantai kayu ulin. Sekaligus hanyut, mengapung di sungai bersama eceng gondok dan kantong plastik hitam. Kata mereka bau saya mulai sama, bau ikan kering yang dijemur terlalu lama.

    Memasuki bulan keenam di Desa. Seharusnya saya sudah mengajar LMN, tapi sayangnya saya masih harus bergulat dengan ABC. Yah, paling tidak anak-anak sudah datang ke sekolah dengan gigi yang lebih bersih. Sesekali saya dengar mereka sudah dapat mengucap maaf dan terima kasih. Mereka memang pintar. Tetapi tetap saja, seharusnya mereka sudah paham LMN.

    Memasuki bulan keenam di Desa. Saya mulai tidak sabaran. Saya membentak ketika anak-anak tak mampu mengeja. Saya mengancam tidak naik kelas ketika mereka mogok menulis. Saya mulai lelah dengan nyaringnya tangisan Misna dan kuatnya amukan Yuda. Sangking letihnya, saya melupakan bahwa anak-anak punya memori yang luar biasa. Mereka tidak akan lupa bahwa gurunya sering mengabaikan mereka dengan sengaja.

    Memasuki bulan keenam di Desa.
    Saya bertanya, apa saya sudah menjadi teladan yang baik? Orang menjawab, kamu pintar dan menyenangkan.
    … Saya terdiam, antara tidak puas dan geram.

    Memasuki bulan keenam di Desa. Aroma rutinitas bercampur dengan kabut tebal di atas sawah. Pagi itu saya menjelma menjadi angin, memasuki jendela pecah dan dinding bolong kelas, mencuri dengar obrolan renyah anak-anak. Hingga akhirnya telinga saya terpaut pada dua anak perempuan yang tengah membincangkan saya. “Ibu Jihan kan jagoan. Orangnya seru dan gak takut siapa-siapa!” anak itu tersenyum, tidak menyadari bahwa saya tengah terbang di atasnya. Dalam seketika saya menjadi angin yang berbahagia. Menari-nari di atas atap rumah dan pucuk nangka.

    Menyambut bulan ketujuh. Saya bertanya, apa saya sudah menjadi teladan yang baik? Saya menjawab, belum, perjalanan masih panjang.

    Menyambut bulan ketujuh. Saya tersedot masuk ke dalam salah satu film India favorit anak-anak. Kali ini Jagoannya bukan pria tampan, melainkan gadis kota yang takut cicak dan biawak. Di tengah segala keterbatasannya, Jagoan sedang melawan Tuan Takur, pernikahan paksa, dan polisi gendut yang tidak adil. Ya, seperti film India pada umumnya. Entah bagaimana akhir filmnya, yang penting saya tahu anak-anak tak pernah ingin Jagoan kalah. Dan itu cukup bagi saya.

  • Uncategorized
  • Anak-Anak Aneh

    Telah empat bulan saya menjalani peran sebagai wali kelas 1 SDN Baru. Rasanya kayak apa? Kayak mangga muda dirujak; asem tapi bikin nagih. Setiap hari saya siap tempur secara fisik dan mental; menghadapi 17 orang anak yang biasa datang berlumuran lumpur, celana sobek, dan kancing baju lepas. Padahal jarak rumah mereka hanya 50 meter dari gerbang sekolah dan itu pun masih jam 7 pagi. Saya sampai sekarang saja masih terheran-heran, ngapain aja sih mereka selama perjalanan ke sekolah.

    Yah, mau bagaimana lagi, anak-anak kelas saya memang aneh-aneh.

    Ada Nafsi yang setiap pagi pamer uang jajan ke orang desa yang ia temui di jalan. Ada Ahmad yang berlayar mengarungi sungai pakai bak cuci piring (fyi, sungai di Desa Baru lebarnya 25 meter). Ada Hamran yang tidak pernah mau masuk sekolah pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu karena ia mau mencuci baju.

    Tuh kan aneh-aneh.

    Salah satu anak yang paling aneh adalah Jarni, jagoan cilik yang tinggal di hilir sungai.

    Dibandingkan kawan-kawannya, Jarnilah yang paling cepat menangkap pelajaran. Saat ini ia sudah mahir menulis, membaca, dan berhitung. Sementara kawan-kawannya bercita-cita menjadi dokter dan pedagang, Jarni ingin menjadi ahli IT. Katanya karena mau bekerja pakai laptop (padahal jaman sekarang dokter dan pedagang juga sudah pakai laptop, nak). Jarni juga selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan cerdik. Seperti ketika saya memberinya soal mid-term:

    “Yang mana kah gambar yang menakutkan? Orang yang sedang berenang atau orang yang dikejar anjing?”
    “Orang yang berenang, Bu”
    “Kenapa?”
    “Kalau dikejar anjing masih bisa dilempar batu, tapi kalau berenang bisa ada buaya di bawah”
    Saya menganga, oh betul juga.

    Selain itu, Jarni juga paling rajin mengaplikasikan apa-apa yang saya ajarkan. Contohnya saat saya mengajarkan untuk meminta maaf apabila berbuat salah. Jarni mengangguk paham; ia sangat antusias mendengarkan nasihat-nasihat saya. Wah Jarni mengerti, pikir saya. Lalu pada jam istirahat saya lihat Jarni iseng menarik kursi temannya hingga temannya terjungkal ke belakang. Jarni tertawa cekikikan sementara temannya kesakitan. Tapi kemudian ia menjabat tangan temannya lalu berujar maaf dengan lantang. Saya geleng-geleng kepala.

    Pernah di hari yang lain saya mengajarkan anak-anak untuk menjadi kuat. Kata saya:

    Di dalam hidup, kita akan tersakiti oleh bermacam-macam hal, tapi kita harus kuat! Kita tidak boleh menangis dan menyalahkan orang lain.

    Tiga hari setelahnya, Jarni menginjak paku di halaman sekolah, darahnya mengalir dengan deras. Ia mendatangi saya di kelas dengan wajah tersenyum (walau air matanya mengalir tak henti). Saya panik melihat lukanya lalu berlari mengambil perban. Sambil saya obati ia berkata, “Bu, Jarni sedang menahan sakit loh. Kayak kata Ibu kemarin”. Saya hampir menangis mendengar kata-katanya. Saya geleng-geleng kepala lagi.

    Benar kan, Jarni memang aneh untuk anak seusianya.

    Tapi tidak apa-apa kok nak, jadi orang aneh.

    Dulu Bung Karno juga dicap aneh karena melepaskan hidup nyaman demi proklamasi yang belum tentu terjadi. Pun JK Rowling saat Harry Potter ditolak 12 kali oleh publisher. Jennifer Lawrence dan Johnny Depp juga begitu; tapi sekarang lihat betapa dunia menyukai mereka.

    Teruskan menjadi anak-anak aneh ya, nak. Karena pencapaian-pencapaian luar biasa hanya dapat diraih oleh orang-orang yang tidak biasa juga :”

  • Uncategorized
  • Desa Baru and Its Cohesiveness

    “Buset. Orang desa suka banget ya silaturahmi.”

    Batin saya pada hari pertama tiba di desa.

    Saat itu saya belum kenal siapa-siapa, namun sudah lebih dari tujuh orang singgah ketika melihat pintu rumah saya terbuka. Lalu kedatangan mereka dilanjutkan dengan ramah tamah dan obrolan yang tiada hentinya. Bayangkan hal tersebut berulang setiap harinya. Selalu ada saja alasan orang-orang untuk datang bersilaturahmi. Lama kelamaan saya lelah karena harus terus menerus bersosialisasi.

    Baru setelah dua purnama, saya mulai beradaptasi dengan pola sosial warga. Seperti orang Indonesia pada umumnya, warga desa sangat doyan bercengkrama. Tapi patut digarisbawahi bahwa perilaku ini bukan keramahtamahan. Setelah lama tinggal di luar negeri, maaf, saya menolak menyebut bangsa kita ramah, karena banyak sekali bangsa lain yang jauh lebih ramah dan terbuka dengan pendatang. Menurut saya, bangsa kita adalah kolektif; dan keingintahuan kita terhadap pendatang adalah masa pertimbangan apakah si pendatang dapat atau tidak masuk ke dalam lingkaran sosial yang telah kita bentuk. Bangsa kita bukannya ramah tapi senang berkumpul 🙂

    Kolektifisme bukan lah hal yang buruk. Saya yakin tak pernah terbesit di benak orang-orang desa bahwa mereka butuh me-time. Sedari kecil mereka sudah terbiasa tinggal dengan belasan saudaranya di rumah tanpa bilik. Satu ruangan untuk tidur dan beraktifitas, 24 jam. Keberadaan orang lain bukanlah pilihan tapi memang bagian dari hidup. Makanya banyak keluarga lintas generasi yang tinggal di atap yang sama. Makanya gosip menyebar lebih cepat dari merebus indomie. Makanya setiap orang tahu kabar semua orang. Makanya kepentingan kelompok adalah mutlak di atas kepentingan lain. Itu semua karena hidup berdampingan adalah praktis sehari-hari. Bukan kebutuhan tapi keadaan.

    Suatu pagi sembari mengagumi fajar saya memandangi geliat warga di pagi hari. Dari kejauhan saya perhatikan ada seorang Ibu penjual kue basah yang berhenti dan mengobrol di setiap pintu rumah.
    Wow, saya terkagum, betapa kohesifnya desa ini.
    Komponen warganya tidak pernah lelah melekatkan diri pada satu sama lain.

    Lalu saya berdoa sebelum kembali ke ruang guru, semoga desa-desa yang kohesif semakin banyak di Indonesia. Lalu kita tinggal menunggu tipping point ketika tiba-tiba negara ini menjadi kohesif juga.

    Bukankah dulu kemerdekaan Indonesia juga dimulai dari perjuangan-perjuangan kecil di penjuru negeri?

  • Uncategorized
  • Irrational Nationalism

    Sampai sekarang masih saja banyak orang yang bertanya,

    “Mengapa kamu balik ke Indonesia padahal mampu melanjutkan hidup di luar negeri?”

    Biasanya saya menjawab,

    “Saya kan orang Indonesia, wajarlah kalau saya ingin pulang membangun negeri. Yang harusnya dipertanyakan adalah ketika saya memilih menetap di negeri orang”.

    Lalu respon yang saya terima biasanya selalu sama : raut wajah yang tidak puas.
    Lalu saya tersenyum kecut, melengkapi jawaban tadi yang sebenarnya tidak cacat.

    “… Lagipula pekerjaan saya sekarang cukup memuaskan”.

    Lucu ya. Mengapa nasionalisme tidak cukup menjadi alasan seorang anak negeri untuk pulang.

  • Uncategorized
  • Unfinished Nation

    Saat itu saya duduk di tepi Sungai Martapura, Banjarmasin, jam 6 sore lebih sedikit. Senja baru saja tiba dan saya tengah menikmati hangatnya matahari berganti angin malam. Taman Bekantan tidak begitu ramai, hanya sepasang pedagang gulali dan penjual tiket klotok yang suaranya nyaring terdengar.

    Pandangan saya menyusuri tiang-tiang jembatan yang berkarat. Jembatan baru yang kumuh, catnya mengelupas di sana sini. Sepanjang jembatan tergantung untaian lampu yang setengahnya padam. Cahayanya yang setengah temaram terpantul di permukaan sungai yang tak beriak. Cantik, sayang tak dipelihara, batinku.

    Lalu pandangan saya beralih kepada pagar pembatas antara trotoar dan air sungai. Tingginya satu meter dengan tebal 25 centimeter. Semennya separuh kasar separuh mengilap, lengkap dengan hiasan kuncup di puncaknya. Seperti monas versi gemuk. Pagar tersebut dibiarkan setengah jadi, dengan cat tipis dan kuncup yang tak terpasang dengan benar. Ah, lagi-lagi properti yang disia-siakan.

    Tiba-tiba lamunan saya dibuyarkan oleh suara cempreng seorang pengamen cilik. Ini pengamen keempat yang mendatangi saya sore ini. Saya perhatikan, pengamen kecil ini tidak kumal dan tidak lusuh, hanya tidak berirama saja. Mungkin mereka sudah belajar bahwa duit tetap datang tanpa kerja keras. Andai saja ada yang mengarahkan mereka.

    Banjarmasin captured

    Saya menghela nafas.

    Kota ini belum selesai.

    Tidak, negeri ini yang belum selesai.

    Pandangan saya mengabur. Saya memejamkan mata dan mengingat pemandangan tadi. Kemudian saya mengatur nafas, menghirup udara sampai ke palung paru-paru. Begitu banyak keindahan tapi mengapa rasanya sedih?

    Samar-samar tercium sisa-sisa rasa rendah diri. Mungkin karena kita dulu dijajah terlalu lama, atau mungkin karena setelah 70 tahun merdeka negeri ini masih saja minim teladan. Ada juga sisa-sisa amarah, entah kepada siapa dan untuk apa. Sisa-sisa intoleransi dan pengelompokan manusia berdasarkan tempat lahir, darah, dan harga mobil. Sisa-sisa kenekatan kita sebagai sebuah bangsa, yang berani pasang badan melawan tank dan senapan cuma berbekal bambu runcing. Sisa-sisa keserakahan paska reformasi.

    Seperti jembatan, pagar, dan si pengamen cilik, negeri ini sedang merengek minta perhatian.

    Saya membuka mata. Kepalan tangan saya mengeras.

    Selayaknya semua hal yang pernah dimulai dengan niat baik, negeri ini pantas diselesaikan dengan nilai yang baik juga. Mungkin bisa saya mulai dengan memperbaiki lampu jembatan yang setengah terang tadi. Atau mungkin dengan mengajarkan ABCD kepada anak-anak sepantaran pengamen tadi di pinggir sungai lain.