Anak-Anak Aneh

Telah empat bulan saya menjalani peran sebagai wali kelas 1 SDN Baru. Rasanya kayak apa? Kayak mangga muda dirujak; asem tapi bikin nagih. Setiap hari saya siap tempur secara fisik dan mental; menghadapi 17 orang anak yang biasa datang berlumuran lumpur, celana sobek, dan kancing baju lepas. Padahal jarak rumah mereka hanya 50 meter dari gerbang sekolah dan itu pun masih jam 7 pagi. Saya sampai sekarang saja masih terheran-heran, ngapain aja sih mereka selama perjalanan ke sekolah.

Yah, mau bagaimana lagi, anak-anak kelas saya memang aneh-aneh.

Ada Nafsi yang setiap pagi pamer uang jajan ke orang desa yang ia temui di jalan. Ada Ahmad yang berlayar mengarungi sungai pakai bak cuci piring (fyi, sungai di Desa Baru lebarnya 25 meter). Ada Hamran yang tidak pernah mau masuk sekolah pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu karena ia mau mencuci baju.

Tuh kan aneh-aneh.

Salah satu anak yang paling aneh adalah Jarni, jagoan cilik yang tinggal di hilir sungai.

Dibandingkan kawan-kawannya, Jarnilah yang paling cepat menangkap pelajaran. Saat ini ia sudah mahir menulis, membaca, dan berhitung. Sementara kawan-kawannya bercita-cita menjadi dokter dan pedagang, Jarni ingin menjadi ahli IT. Katanya karena mau bekerja pakai laptop (padahal jaman sekarang dokter dan pedagang juga sudah pakai laptop, nak). Jarni juga selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan cerdik. Seperti ketika saya memberinya soal mid-term:

“Yang mana kah gambar yang menakutkan? Orang yang sedang berenang atau orang yang dikejar anjing?”
“Orang yang berenang, Bu”
“Kenapa?”
“Kalau dikejar anjing masih bisa dilempar batu, tapi kalau berenang bisa ada buaya di bawah”
Saya menganga, oh betul juga.

Selain itu, Jarni juga paling rajin mengaplikasikan apa-apa yang saya ajarkan. Contohnya saat saya mengajarkan untuk meminta maaf apabila berbuat salah. Jarni mengangguk paham; ia sangat antusias mendengarkan nasihat-nasihat saya. Wah Jarni mengerti, pikir saya. Lalu pada jam istirahat saya lihat Jarni iseng menarik kursi temannya hingga temannya terjungkal ke belakang. Jarni tertawa cekikikan sementara temannya kesakitan. Tapi kemudian ia menjabat tangan temannya lalu berujar maaf dengan lantang. Saya geleng-geleng kepala.

Pernah di hari yang lain saya mengajarkan anak-anak untuk menjadi kuat. Kata saya:

Di dalam hidup, kita akan tersakiti oleh bermacam-macam hal, tapi kita harus kuat! Kita tidak boleh menangis dan menyalahkan orang lain.

Tiga hari setelahnya, Jarni menginjak paku di halaman sekolah, darahnya mengalir dengan deras. Ia mendatangi saya di kelas dengan wajah tersenyum (walau air matanya mengalir tak henti). Saya panik melihat lukanya lalu berlari mengambil perban. Sambil saya obati ia berkata, “Bu, Jarni sedang menahan sakit loh. Kayak kata Ibu kemarin”. Saya hampir menangis mendengar kata-katanya. Saya geleng-geleng kepala lagi.

Benar kan, Jarni memang aneh untuk anak seusianya.

Tapi tidak apa-apa kok nak, jadi orang aneh.

Dulu Bung Karno juga dicap aneh karena melepaskan hidup nyaman demi proklamasi yang belum tentu terjadi. Pun JK Rowling saat Harry Potter ditolak 12 kali oleh publisher. Jennifer Lawrence dan Johnny Depp juga begitu; tapi sekarang lihat betapa dunia menyukai mereka.

Teruskan menjadi anak-anak aneh ya, nak. Karena pencapaian-pencapaian luar biasa hanya dapat diraih oleh orang-orang yang tidak biasa juga :”

Leave a Reply