Desa Baru and Its Cohesiveness

“Buset. Orang desa suka banget ya silaturahmi.”

Batin saya pada hari pertama tiba di desa.

Saat itu saya belum kenal siapa-siapa, namun sudah lebih dari tujuh orang singgah ketika melihat pintu rumah saya terbuka. Lalu kedatangan mereka dilanjutkan dengan ramah tamah dan obrolan yang tiada hentinya. Bayangkan hal tersebut berulang setiap harinya. Selalu ada saja alasan orang-orang untuk datang bersilaturahmi. Lama kelamaan saya lelah karena harus terus menerus bersosialisasi.

Baru setelah dua purnama, saya mulai beradaptasi dengan pola sosial warga. Seperti orang Indonesia pada umumnya, warga desa sangat doyan bercengkrama. Tapi patut digarisbawahi bahwa perilaku ini bukan keramahtamahan. Setelah lama tinggal di luar negeri, maaf, saya menolak menyebut bangsa kita ramah, karena banyak sekali bangsa lain yang jauh lebih ramah dan terbuka dengan pendatang. Menurut saya, bangsa kita adalah kolektif; dan keingintahuan kita terhadap pendatang adalah masa pertimbangan apakah si pendatang dapat atau tidak masuk ke dalam lingkaran sosial yang telah kita bentuk. Bangsa kita bukannya ramah tapi senang berkumpul 🙂

Kolektifisme bukan lah hal yang buruk. Saya yakin tak pernah terbesit di benak orang-orang desa bahwa mereka butuh me-time. Sedari kecil mereka sudah terbiasa tinggal dengan belasan saudaranya di rumah tanpa bilik. Satu ruangan untuk tidur dan beraktifitas, 24 jam. Keberadaan orang lain bukanlah pilihan tapi memang bagian dari hidup. Makanya banyak keluarga lintas generasi yang tinggal di atap yang sama. Makanya gosip menyebar lebih cepat dari merebus indomie. Makanya setiap orang tahu kabar semua orang. Makanya kepentingan kelompok adalah mutlak di atas kepentingan lain. Itu semua karena hidup berdampingan adalah praktis sehari-hari. Bukan kebutuhan tapi keadaan.

Suatu pagi sembari mengagumi fajar saya memandangi geliat warga di pagi hari. Dari kejauhan saya perhatikan ada seorang Ibu penjual kue basah yang berhenti dan mengobrol di setiap pintu rumah.
Wow, saya terkagum, betapa kohesifnya desa ini.
Komponen warganya tidak pernah lelah melekatkan diri pada satu sama lain.

Lalu saya berdoa sebelum kembali ke ruang guru, semoga desa-desa yang kohesif semakin banyak di Indonesia. Lalu kita tinggal menunggu tipping point ketika tiba-tiba negara ini menjadi kohesif juga.

Bukankah dulu kemerdekaan Indonesia juga dimulai dari perjuangan-perjuangan kecil di penjuru negeri?

1 Comment

  1. dani says: Reply

    Amiiiin…. Gue dulu dibesarkan dalam suasana dan budaya yang kohesif seperti itu Ji. Dan dengan semakin berkembangnya suatu daerah dan banyaknya pengaruh dari luar, lama kelamaan cohesiveness itu memudar meskipun di generasi orang tua masih kerasa. Amiiiin lagi buat berkembangnya lagi kesatuan itu.

Leave a Reply